Tampilkan postingan dengan label ekonomi Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Agustus 2009

Operasi Katarak Geratis



===Geratis, selain diberikan kacamata, masyarakat miskin juga diberikan pemeriksaan mata oleh tim medis di Puri Gede Karangasem,(4/8)



Angka gangguan indera pengelihatan di Karangasem yang terdeteksi sampai tahun ini cukup tinggi. Data sementara yang dimiliki Dinas Kesehatan, jumlah penderita penyakit mata seperti rabun dan katarak sampai bulan Februari 2009 jumlahnya mencapai 359 orang, 79 penderita diantaranya adalah penderita penyakit katarak yang sudah dioperasi secara geratis oleh Dinas Kesehatan Karangasem. Kondisi demikian mengundang keperihatinan tokoh Puri Gede Karangasem, AA Bagus Ngurah Agung SH MM. Bersama Yayasan Kemanusiaan Indonesia, Pengelingsir Puri Karangasem yang gemar mengoleksi benda pusaka keris ini, Selasa(4/8) kemarin melakukan pemeriksaan mata geratis sekaligus membagikan sebanyak 1000 pasang kacamata bagi warga miskin yang mengalami gangguan pengelihatan. Masyarakat yang datang sekaligus mendapatkan pemeriksaan geratis termasuk kaca mata untuk membantu memperbaiki pandangan “Pandangan jadi lebih jelas, tidak buram lagi,”Ujar Syafrudin salah seorang yang kebagian kacamata geratis. Warga asal Kampung Gerembeng, Karangsem ini mengaku belum bisa membeli kacamata meski memiliki masalah dengan pengelihatannya. Sementara Kadis Kesehatan Karangasem, dr. IGM. Titayana, mengatakan penyakit mata rabun dan katarak paling rentan diderita oleh masyarakat miskin. Menurutnya faktor penyebab penyakit tersebut diantaranya pola hidup yang tidak sehat, asupan gizi atau nutrisi yang kurang bagus, dan paparan sinar matahari atau sinar ultraviolet yang berlebihan. Dikatakan masyarakat di daerah pesisir paling rentan terkena gangguan pengelihatan jenis ini. “Pola hidup sehat dan mengkonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang cukup paling tepat untuk pencegahan,”imbuhnya.

Kamis, 30 Juli 2009

SMA 1 Sidemen








SMA I Sidemen Programkan Pelajaran Subak, Nenun Dan Nyastra Sebagai sekolah yang ada dalam habitat kentalnya tradisi dan budaya Bali, SMAN I Sidemen menjadikan Subak, Nenun dan Nyastra sebagai pelajaran muatan lokal yang diberikan kepada siswa – siswi agar tidak tercabut dari akar budayanya. Kepala Sekolah SMA I Sidemen I Nyoman Suriti, M.Si mengatakan, pemberian pelajaran ekstra maupun pelajaran yag berorientasi kearifan lokal sangat dibutuhkan agar komunitas generasi muda ke depan paham dengan apa yang dimiliki dan terus dapat dilestarikan. Untuk mulok Subak selain anak-anak diperkenalkan dengan sistim operasional subak khusus dalam penataan aliran air di sawah, bertanam padi dan sistim upacara yang beerlaku di lokal setempat, juga diberikan pengetahuan mengenai berbagai tanaman obat atau usadha yang banyak dikenal sebagai tanaman Toga. “Ketrampilan menenun diajarkan cara menenun dengan Alat Tehun Bukan Mesi (ATBM) baik untuk menenu kain songket maupun endek yang merupakan potensi khas Sidemen, sekaligusmemperkenalkan jenis-jenis pewarna alami yang ramah lingkungan dari sumber berbagai tumbuhan,”tambahnya. Sedangkan nyastra, diajarkan ketrampilan menulis lontar, utsawa dharma gita serta pengetahuan sastra Bali lainnya. SMAN I Sidemen memiliki siswa-siswi sejumlah 623 orang dengan jumlah tenaga pendidik dari guru tetap dan tidak tetap sekitar 40 orang. Terakhis SMAN I Sidemen mengantongi prestasi dari tahun 2005 – 2009 sebanyak 95 jenis ditambah berbagai karya tulis, penelitian serta berbagai penghargaan dan keikutsertaan prestasi guru pada kegiatan penelitian dan karya ilmiah ditingkat nasioanal maupun internasional. Atas nama Putu Sudibawa guru Biologi, juga memperoleh penghargaan dan karya akademik sekitar 49 jenis, karya penelitian 8 jenis, dengan puncak prestasi penghargaan dari Saint Edducation Award (Indoesia Toray Sains Foundation tingkat Internasional tahun 2006, Since is Fun Competittion dari Australian Education Centre tingkatInternasional tahun 2005 dan Guru Ajeg Bali (GAB) dari Bali Post tahun 2008.

Rabu, 29 Juli 2009

Nguye Dan Ritus Budaya Mahkota


foto, Sajen yang dipersembahkan saat ngunye
Tradisi Nguye Ungkapan Terimakasih Kepada Pitra


Tradisi Ngunya yang dilaksanakan setiap upacara ngaben massal di Desa Pakraman Pesedahan Manggis, hingga kini masih lestari dilaksanakan oleh krama Banjar di tempat pemondokan sawa. Saat pelaksanaan tradisi Ngunya pada pengabenan tahun ini dilakukan (26-7-09) di Balai Banjar Kanginan yang digunakan sebagai tempat mondok kelmpok warga yang melaksanakan upacara pengabenan. Pengabenan Prenawa yang dilaksanakan dengan kegotong-royongan krama Banjar, menjadwalkan pelaksanaan upacara Ngunya sebanyak 2 kali yakni saat upacara Ngaskara (26-7-09) dan H-1 upacara ngaben (27-7-09).

Tradisi Ngunya merupakan tradisi warisan nenek moyang ditujukan untuk memberikan kesempatan terakhir bagi krama Banjar untuk memaafkan sang pitra jika ada kesalahan / kekeliruan yang diperbuat terhadap krama dan belum dimaafkan higga dibawa mati. Sedangkan bagi pratisentana yang ngarepang ngaben (sane meduwe sawa) saat Ngunya berlangsung tidak boleh tidak menyapa krama Banjar yang datang, sehingga secara manusiawi dikandung makna tidak boleh ada permusuhan diantara krama, baik saat ngertiyang yadnya sang pitra maupun setelah upacara ngaben. Pada saat pelaksanaan ngaben maupun acara Ngunya ditetapkan aturan ketat antara lain tidak boleh tidak menyapa krama Banjar, tidak boleh mengangkat lutut saat duduk di banjar, tidak boleh metodtodan / memegang tampul banjar saat berdiri di banjar, harus berbusana adat mesaput, umpal, kamben baju dan udeng (destar), tidak boleh berbicara caah-cauh (ngacuh) di Banjar.

Menurut Kelian Banjar Kanginan Drs. I Ketut Artana, dresta aturan atau awig banjar yang mengatur tatakrama saat pelaksanaan upacara Ngaben, hingga kini masih hidup dan ditaati krama walaupun tidak tertulis. Secara turun-temurun aturan tersebut diyakini dan ditaati sebagai norma etika dan disiplin krama dalam melaksanakan upacara Pitra Yadnya. Jika ada krama yang melanggar dikenakan dedosan sesuai bobot pelanggarannya disepakati dan ditetapkan sesuai hasil perarem. Namun dalam praktek pelaksanaanya tidak ada krama yang kena dedosan kendatipun krama sangat tunduk dengan aturan tersebut.

Penglingsir Desa Pesedahan I Nengah Sariati menyebutkan, dimasa lalu tradisi Ngunya maupu Ngaben berlangsung sangat tertib dan khusuk. Tidak ada krama yang berani piwal/tempal atau melanggar aturan Banjar sehingga pelaksanaan upacara Ngben massal yang dilaksanakan setiap Sasih Karo saban tahun berlangsung dengan lancar. Menurut Sariati, Ngunya itu sediri merupakan wujud silaturahmi antara krama Banjar salig memaafkan dalam arti sebenarnya, menghilangkan rasa permusuhan, dengki, iri dan segala sifat-sifat Asuri Sampat lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mendoakan arwah pitra agar dapat menempuh jalan ke sunia loka tanpa halangan sesuai amal bakti – karma sanyasa-nya di dunia sekala.

Dalam tradisi Ngunya didahului suaran kulkul banjar disusul sang meduwe karya (pengarep) menyajikan sanganan (kue khas Bali) seperti Kuskus putih, jaje Uli Barak dan Putih, Jaje Abug, Tape, Kelepon dan delapan buah pisang Saba diatur dua biji pada 4 arah menghadap keluar. Penyajian sanganan diatur sedemikian rupa menurut 4 arah mata angin yang akan disantap 4 orang krama dalam satu sele /kelompok Mesanganan. Sebelum Mesanganan Saye Arah Banjat melakukan absensi (Nyacak Krama) Kelian Banjar nangiang atur indik pemargi Mesanganan lan eed ayah-ayah pemargi pengabenan, dilanjutkan atur-pramasuksma lan penyangaskara atur atas keberadaan sang pitra dari wakil krama ngarep ngaben, kepada krama banjar sekaligus mempersilahkan Mesangaan, diawali ngiderang pewacikan (tempat cuci tangan). Dalam suasana Nyacak Krama semua anggota Banjar wajib hadir baik yang dirantau maupun pengayah aktif serta roban banjar (STT Banjar). Hal ini mengandung makna, kesempatan Ngunya setiap tahun saat pengabean diharapkan ada silaturahmi saling berkomunikasi antar krama yang dapat mempertebal kekarabatan penyambrayaan dikalangan internal krama banjar.







RITUS BUDAYA MAHKOTA KEMBALI DIGELAR


Ritus Budaya Mahkota yang diprakasai budayawan Ida Wayan Oka Granoka, kembali digelar dengan mengagendakan 4 ritus yakni Parum Param, Prabaswara, Alokabhasa dan Lingacalaprabha. Menurut sang empunya acara Oka Granoka saat melakukan kordinasi lapangan di Desa Tua Tenganan Pagringsingan (22-7-09) menyebut, tahun ini ritus budaya mahkota mengambil thema esensi mahawindhu kebudayaan abad 21 dengan representasi puncak tujuh abad bineka tunggal ika.
Hal tersebut terkait dengan menyongsong peringatan 64 tahun Hut Kemerdekaan RI 17 Agustus 2009 yang perlu dibangkitkan aura nilainya dalam wujud pencitraan emas mahkota Indonesia merdeka Mahardika. Untuk prosesi itu serangkaian ritus dicanangkan yakni Parum Param berupa gelar dialog pembangkitan roh murni bangsa di Pendopo Puri Klungkung 31 Juli lalu, dilanjutkan ritus Prabhaswara yakni pencerahan murni menyongsong matahari terbit yang mengambil lokasi di Pertigaan Trinadi Desa Adistana Budakeling pada tanggal 1 Agustus 2009.
Rangkaian ritus Prabhaswara dilanjutkan dengan Alokabhasa yakni pencerahan penuh, kulminasi tengah hari dilokasi Padma Mandala Desa Kuno Tenganan Pagringsingan pada siang hari 1 Agustus 2009 serta keesokan harinya disusul ritus Lingacalaprabha yakni melangsungkan acara napak tilas mendaki bukit, menyongsong matahari terbit di puncak bukit Bada-Budu Desa Kuna Tenganan Pagringsingan pada Minggu pagi 2 Agustus 2009.
Prosesi upacara di lokasi desa tua Tenganan akan dimeriahkan dengan pawai – peed sejumlah simbol dan panji-panji serta iringan gamelang khusus 200 alat tabuh Ceng-Ceng yang diusung pendukung acara dari Jalan Raya Candidasa – Tenganan menuju Desa Tua Tenganan Pagringsingan.






Grebeg Aksara Emas Mahkota Bertepatan Saraswati

Kebangkitan energi semesta dari kemurnian desa tua dalam menyongsong masa depan untuk menjadikan desa tua sebagai mata air pembelajaran, setelah 7 abad pasca puncak kebagkita masa kejayaan Majapahit. Kini di era milenium 7 abad kedua yakni abad 21 puncak keemasan mahkota sastra diperingati tepat pada perayaan Saraswati dipusatkan di Desa Adistana Budakeling da Desa Tua Tenganan Pagringsingan.

Menurut pemrakarsa acara Drs. Ida Wayan Oka Granoka saat dikonfirmasi (28/7) mengatakan, makna hakekat pelaksanaan rangkaian grebeg aksara yang diisi dengan rangkaian ritus untuk membangkitkan efek rekonsiliasi nasional Parba Jagat Raya Nusantara. Tahun 2009 ini dilaksanakan prosesi Prabhaswara dilanjutkan dengan Alokabhasa yakni pencerahan penuh, kulminasi tengah hari dilokasi Padma Mandala Desa Kuno Tenganan Pagringsingan pada siang hari 1 Agustus 2009 serta keesokan harinya disusul ritus Lingacalaprabha yakni melangsungkan acara napak tilas mendaki bukit, menyongsong matahari terbit di puncak bukit Bada-Budu Desa Kuna Tenganan Pagringsingan pada Minggu pagi 2 Agustus 2009.

Semantara tujuan yang hendak dicapai adalah membangkitkan kemurnian snergi semesta, belajar dari kemurnian desa tua, untuk menyongsong masa depan yang kini terangkat dalan dialog komunikasi global. Aksara emas mahkota yang dijunjung tinggi dalam simbol Saraswati sumber keagungan sastra, untuk mempertemukan menyatunya ilmu pengetahua barat dan timur. Acara tersebut, juga dihadiri para pencinta dan penggemar budaya nusantara para spiritual dari pelbagai daerah yang memiliki sejarah kejayaan kerajaan masa lalu di beberapa daerah di Jawa seperti Pasundan, Jakarta, Bekasi dsb.

Kabid Seni Budaya Disbudpar Karangasem Ida Ayu Agung Emawati menyatakan dukungannya untuk kelancaran dan kesuksesan acara ritus budaya mahkota tahun 2009. Menurutnya fokus kegiatan di Desa Tua Tenganan sesungguhnya memang ada bisama dari leluhur khususnya Dang Hyang Astapaka pendiri cikal bakal Desa Budakeling yang terkait erat dengan Desa Tenganan. Implementasi selanjutnya setelah acara ritus digelar adalah tumbuhnya pasraman di desa-desa sebagai wahana pembelajaran agama, adat, seni budaya, kesenian sakral maupun menempa moralitas generasi muda.

Acara akan diawali di Desa Adistana Budakeling tanggal 1 Agustus 2009 pagi hari dilepas Bupati Karangasem, selanjutnya rombongan kendaraan menuju ke Tenganan Pagringsingan, dengan start pawai dari Pertigaa Tauman berjala menuju Wantilan Desa Tenganan, diiringi Tabuh Ceng-ceng gebogan, Pasraman berbagai desa dan massa pendukung acara yang datang dengan kesadaran sendiri. Di wantilan acara ceremonial diisi dengan rangkaian ritus budaya hingga eaktu menyogsong matahari terbit di Bukit Bada-Budu pada pagi hari melalui napak tilas.

Senin, 27 Juli 2009

Demam Facebook

Asyik berfacebook ria

Remaja di Karangasem belakangan lagi demam facebook. Tak peduli duit di saku digerogoti terus untuk sewa internet namun tetap asyik jalin hubungan di dunia maya. Uniknya anak -anak dan orang dewasa tak mau kalah. Kondisi itu juga dibaca pengusaha bengkel Autotama Mobil, I Wayan Sutama yang menyediakan fasilitas internet bagi pelanggannya yang kebetulan datang untuk merawat kendaraannya di bengkel yang berlokasi di jalan raya jasri itu.

Kamis, 23 Juli 2009

Ekonomi Budaya


Jajaran Polres Karangasem disaksikan unsur Muspida memusnahkan barang sitaan mikol dan narkoba hasil oprasi miras





Koperasi Arak Tuntut Payung Hukum
Perajin arak di Karangasem bergeming ketika produksinya terus diuber aparat karena dinilai melanggar hukum. Padahal selama ini ribuan pembuat minuman tradisional beralkohol tinggi itu menggantungkan ekonomi keluarga pada sektor ini. Saran pemerintah untuk membentuk sebuah koperasi pun di lakoni. Namun demikian ketidak beradaan ijin menjadikannya menjadi sasaran operasi petugas. Berangkat dari penangkapan sejumlah pengedar arak diwilayah Sidemen, Koperasi Arak Sari Pertiwi, mendesak Pemkab Karangasem untuk segera memayungi perajin melalui legalisasi produksi arak. Tujuannya tidak lain untuk menyelamatkan potensi industri rumah tangga yang sudah dilakoni bertahun-tahun itu mendapat ijin produksi. Dengan perlindungan terhadap perajin arak diharapkan menjadi peluang produktif, memberi ketenangan bagi perajin memproduksi minuman khas itu. Di Karangasem sebenarnya ada empat perajin minuman tradisional yang sudah berhasil keluar TDI-nya sebelum aturan baru Perpres keluar. Keempat perajin itu antara lain, Perajin Wine Dukuh Lestari dengan jumlah tenaga kerja 17 orang memiliki jumlah investasi 14,7 juta rupiah lebih berkapasitas 2400 liter per tahun, dengan mengantongi nomor TDI : 484/51.07/2006, Niki Shake Bali di Dusun Bengkel Antiga, Manggis berkapasitas 20.400 liter per tahun dengan 7 orang karyawan bernilai investasi sebesar 123,7 juta rupiah lebih mengantongi nomor TDI : 192/51.07/2006 Serta UD Parta Jaya Dusun Karangasem, Sengkidu Kecamatan Manggis dengan jumlah karyawan 7 orang, berkapasitas 60.750 liter per tahun dengan nilai investasi 133,4 juta rupiah lebih dengan nomor TDI : 487/51.07/2006. Kadisperindag Karangasem, Puspa Kumari mengatakan, Pemkab berupaya mendorong dan membantu perajinan Minuman Tradisional khas Karangasem dapat memanfaatkan perijinan yang kolaps di daerah lain sehiungga dapat digantikan oleh jenis minuman khas Karangasem. Dengan demikian tidak akan terganjal oleh Peraturan Presiden (Preprer) No. 77 tahun 2007 tentang Black Investasi, karena produksi minuman khas tradisional Karangasem termasuk diantara golongan C dengan kadar alkohol 20 – 55 %. “Perajin minuman tardisional di Sidemen maupun desa-desa lainnya yang tidak tergolong investasi dan bersifat ekonomis dapat saja dipayungi, sepanjang dapat menggantikan ijin yang kolaps di daerah lain,”ujarnya. Dia berharap perajin arak melirik sektor lain untuk dilakoni sebagai penunjang ekonomi keluarga, tidak menggantungkan diri pada kerajinan ini.

Ekonomi Budaya




Warga di lereng Gunung Agung sisi utara(wilayah Kecamatan Kubu) mulai menikmati fasilitas jalan untuk mengangkut hasil panen di lahan pertanian mereka. Penduduk di daerah tandus penghasil biji mete ini mengangkutnya dengan nyuun(menjunjung) dengan kepala mereka. Meski cukup melelahkan karena harus menempuh jarak lumayan jauh ditambah sturktur jalan menanjak dan sinar mentari yang semakin menyengat, seuntai senyum nampak di raut wajah mensyukuri anugerah Yang Kuasa. Munti Gunung(23/7)























Ekonomi Budaya


Ada foto………..(rah. Semen milik KKM)
Membeku, ratusan sak semen milik KKM teronggok di depan stokies areal pasar Karang Sokong==

Barang Banyak Rusak
Stokies Dibuka Pertengahan Agustus

Amlapura(Bisnis Bali)
Setelah hampir lima bulan tidak beroperasi barang-barang milik KKM seperti sembako, makanan ringan dan semen mulai rusak. Bahkan beberapa ton beras dan ratusan sak semen tidak bisa dimanfaatkan.”Kami masih melakukan pendataan aset dan memilah barang yang sudah tidak bisa dipakai lagi,”ujar Ketua KKM, I Nyoman Suardana usai mengecek barang di 3 kantor Cabang KKM (Manggis, Selat dan Bebandem), (23/7) kemarin. Disebutkan banyak barang milik KKM yang sudah kedaluawarsa. Barang-barang seperti ratusan sak semen yang kndisinya sudah membeku teronggok di areal pasar Karang Sokong, minuman dan makanan ringan, susu dan kosmetik serta beras rencananya akan dibuang, sementara sisanya yang masih bisa dimanfaatkan akan dilelang dengan harga murah. Setelah melakukan pendataan pihaknya mengaku akan membuka kembali stokies dan swalayan pertengahan bulan Agustus mendatang. Nantinya nasabah yang mencairkan uangnya akan diberikan kesempatan berbelanja. Soal kelangsungan usaha KKM Suardana mengaku optimis, dengan tawaran sejumlah Bank dan lembaga keuangan lainnya sebagai solusi permodalan ditambah tabungan nasabah yang masuk menjadi anggota baru akan mampu menggerakan program yang sudah direncanakan sebelumnya.”Seorang enterpreneur tidak boleh pesimis, dengan modal dan kerja keras pasti bisa,”ucapnya. Sementara untuk mengurangi beban operasional pihaknya mengaku belum ada niat untuk merekrut karyawan baru tetapi memaksimalkan sekitar 119 tenaga yang dipekerjakan sebelumnya. Sedang tiga tim khusus yang dibentuk terus berupaya melakukan pembenahan dalam masa pemulihan hingga 6 bulan kedepan. Sementara anggota Badan Pengawas yang juga anggota Pansus DPRD I Gusti Lanang Ngurah berharap semua pihak memberikan kesempatan kepada KKM untuk menjalankan programnya sebatas tidak melanggar aturan. “KKM juga harus berhitung, soal kondisi nasabah, jangan sampai dampak sosial berbuntut masalah pidana,”tegasnya.(rah)


Karang Taruna Yoana Karya Dinilai Tim Propinsi

Setelah melalui seleksi ketat di tingkat Kabupaten, Karang Taruna (KT) Yoana Karya, Kecamatan Abang terpilih sebagai duta Karangasem. Tim penilai lomba karang taruna tingkar Propinsi Bali, Kamis (23/7) diketuai Kadis Sosial Bali, Drs. I Nyoman Puasha Aryana, M.Si. mengamati
Unsur-unsur yang menjadi objek penilaian di antaranya kondisi keoorganisasian, aktivitas fisik berupa pameran maupun peragaan. Khusus untuk penilaian pameran, KT Yoana Karya menampilkan beragam hasil kerajinan tangan seperti bokor berbahan batok kelapa.
Ketua KT Yoana Karya, Ida Made Basmadi, melaporkan, organisasi kepemudaan yang dipimpinnya terdiri dari 1.689 anggota. Dalam melaksanakan fungsinya, karang taruna dibagi dalam seksi-seksi antara lain seksi organisasi, pelayanan sosial dan pengabdian masyarakat, seksi ekonmis produktif hingga seksi lingkungan hidup. Sementara Bupati Karangasem Wayan Geredeg, dalam kesempatan tersebut mengatakan, karang taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang bergerak di bidang kesejahteraan sosial sebagai mitra kerja pemerintah.

Ekonomi Budaya


Ada foto……….(rah. Nasabah antrean KKM)
==Bergurau, nasabah yang antri giliran mencairkan uangnya, menyempatkan diri bergurau dengan karyawan KKM sekedar menghilangkan penat==


Fokus pengembalian Uang Nasabah
KKM Rekrut Warga Karangasem Masuk Anggota

Amlapura(Bisnis Bali)
Keinginan nasabah untuk segera mencairkan uangnya kembali tampak dari antrian panjang di Gedung KKM. Setelah pencairan dimulai (16/7) lalu, setiap hari ratusan nasabah antri menunggu giliran untuk menukarkan aplikasinya, sementara ratusan lainnya berjubel melakukan pendaftaran ulang sesuai jadwal yang diumumkan pihak menejemen KKM. Tawaran untuk menjadi anggota baru oleh sebagian nasabah nampaknya menjadi pemikiran lain. Kondisi keuangan keluarga dan kelanjutan usaha koperasi dengan puluhan ribu nasabah itu sepertinya masih menjadi bahan pertimbangan bagi mereka. Meski pihak menejemen terus meyakinkan bahwa sudah banyak yang ikut menjadi anggota baru. Bahkan ada yang kembali menyimpan uangnya dalam bentuk simpanan sukarela dengan nilai hingga ratusan juta rupiah. Malah bekas ketua sekaligus pendiri KKM, I Gede Putu Kertiya mengatakan ada nasabah yang menaruh uangnya untuk dijadikan modal KKM hingga milyaran rupiah.”Ada nasabah yang hanya menarik uangnya Rp 200 juta dari Rp 1,2 Milyar di KKM,”ujar Kertiya belum lama ini sembari menyebut respon nasabah untuk masuk menjadi anggota baru berkisar hingga 60 persen. Sementara beberapa nasabah yang ditemui usai mencairkan aplikasinya mengaku masih pikir-pikir dengan alasan ada aplikasi yang belum dicairkan. Sedang beberapa diantaranya mengaku siap menjadi anggota baru setelah dana diatas 10 juta dicairkan.”Nanti kalau dana diatas 10 juta cair, rencananya disisakan sedikit untuk mendaftar jadi anggota,”kata I Made Rangki, salah satu nasabah. Rangki beralasan syarat menjadi anggota baru dengan membayar simpanan pokok Rp 2 juta dan simpanan wajib 240 per tahun nilainya cukup tinggi, sedang dirinya saat ini masih menanggung utang, karena uang yang diinvest sebelumnya hasil pinjaman. Menyinggung soal perekrutan anggota baru ketua KKM yang baru I Nyoman Suardana menerangkan pihaknya tetap memberikan kesempatan kepada nasabah terutama warga Karangasem, atau warga lain yang berdomisili di Karangasem untuk mendaftar menjadi anggota.”Keinginan kami mengajak warga Karangasem membangun daerahnya, meski saat ini tinggal di luar daerah,”ujarnya. Menurut Suardana selang beberapa hari sudah ada ratusan nasabah yang mengajukan diri menjadi anggota baru dengan aset berkisar 20 sampai 100 juta rupiah. Pengurus KKM, I Made Mintaka menambahkan tidak dicabutnya badan hukum dan ijin usaha KKM dan tidak dijalankannya program cavital investmen sesuai hasil rapat pengurus luar biasa(24/4) lalu memberi peluang untuk mengubah status nasabah menjadi anggota koperasi. “Posisi nasabah di break down menjadi anggota, sedang investasinya diubah menjadi tabungan koperasi itupun berdasarkan keinginan nasabah dengan disertai hak dan kewajibannya,”kata Mintaka. Disebutkan beberapa hak nasabah seperti hak suara, mendapat SHU atau bunga dari tabungan berjangka, sementara mereka diwajibkan membayar simpanan pokok dan simpanan wajib sebagai persyaratan menjadi anggota.(rah)